Senin, 28 Januari 2013

Parenting


PENTINGNYA PARENTING
TERHADAP POLA ASUH ANAK


MAKALAH
UNTUK MEMENUHI TUGAS MATAKULIAH
Bahasa Indonesia Keilmuan
yang dibina oleh Bapak Dr. Roekhan, M. Pd.


Oleh
Ratna Alvionitta Zuhri
120811421429




UNIVERSITAS NEGERI MALANG
FAKULTAS PENDIDIKAN PSIKOLOGI
JURUSAN PSIKOLOGI
Desember 2012

PENTINGNYA PARENTING TERHADAP POLA ASUH ANAK
Oleh:
Ratna Alvionitta Zuhri

1.        Pendahuluan
1.1.  Latar Belakang
Pola asuh merupakan pola interaksi antara orang tua dan anak. Pola interaksi berupa cara sikap atau perilaku orang tua saat berinteraksi dengan anak, termasuk cara penerapan aturan, penerapan nilai/norma, memberikan kasih sayang serta menunjukkan sikap dan perilaku baik sehingga menjadi panutan bagi anaknya. Pola asuh orang tua yang sesuai adalah yang membuat anak merasa disayang, dilindungi, dianggap berharga, dan diberi dukungan oleh orang tuanya. Pola asuh yang demikian dapat membentuk kepribadian yang pro-sosial, percaya diri dan mandiri namun sangat peduli dengan lingkungannya.
 Masyarakat memberikan kewenangan utama terhadap orang tua untuk memenuhi kebutuhan anak karena orang tua dianggap mengetahui hal-hal terbaik bagi anaknya. Orang tua memberikan rangkaian kebutuhan dan kualitas kompleks dalam proses pengasuhan. Peran dasar orang tua ialah bertanggung jawab terhadap pengasuhan(Brooks:2011).
Perilaku orang tua tidak hanya memunculkan perkembangan yang sehat tetapi juga meredam dampak negatif yang diterima anak dari berbagai kejadian yang menimbulkan stress. Pengasuhan yang peka dan responsif meredam dampak negatif gen, dampak kesulitan ekonomi, dampak diskriminasi dan prasangka, dampak perceraian, dan dampak kematangan dini yang dialami anak perempuan.
Orang tua memberikan perhatian dalam interaksi langsung dengan anak. Mereka juga memberikan perhatian melalui tindakan tidak langsung yang bisa muncul dalam berbagai bentuk. Orang tua sebagai individu-individu yang mengasuh, melindungi dan membimbing dari bayi hingga tahap dewasa.
Menurut kamus istilah psikologi sebagaimana tertulis dalam buku The Cambridge Dictionary of Psychology, parenting adalah segala tindakan yang dilakukan oleh orang dewasa kepada anak-anak dalam rangka melindungi, merawat, mengajari, mendisiplinkan dan memberi panduan. Maka dalam bahasa Indonesia yang paling sesuai dengan pengertian dari parenting adalah pengasuhan anak. Parenting memiliki pengaruh pada anak seperti penyesuaian, problem perilaku, kompetensi, dan internalisasi nilai. Parenting style merupakan konsep yang menggambarkan variasi pengasuhan anak dalam hal pendisiplinan, kehangatan, perhatian terhadap kebutuhan anak, serta sikap dan keyakinan orang tua yang secara konsisten membentuk pola dalam memperlakukan anak.
 Orang tua dalam parenting berperan untuk membimbing dan mendampingi semua tahapan pertumbuhan anak, yang merawat, melindungi, dan mengarahkan kehidupan baru anak dalam setiap tahap perkembangannya. Pola asuh orang tua adalah pola asuh yang diterapkan pada anak yang bersifat relatif konsisten dari waktu ke waktu. Pola perilaku ini dapat dirasakan oleh anak dari segi negatif maupun positif.
Ahli teori pembelajaran mengidentifikasi bentuk khusus rancangan lingkungan yang meningkatkan pertumbuhan anak dan memberikan peran yang  penting dan aktif bagi orang tua. Peran anak bisa bervariasi seperti kertas kosong yang akan mendapatkan coretan. Anak dapat mempelajari semua perilaku melalui penghargaan dan hukuman dari luar sehingga menjadi pembelajar aktif yang menginterpretasikan lingkungan di sekitar serta memilih tujuan dan model untuk ditiru. Oleh karena itu, dorongan utama bagi perkembangan dilihat dari dorongan luar yang mengajarkan dan menghasilkan perubahan perilaku.
Berdasarkan uraian tersebut, makalah berjudul Pentingnya Parenting Terhadap Pola Asuh Anak ditulis karena banyak orang tua yang tidak memperhatikan cara pengasuha kepada anaknya. Orang tua hanya memperdulikan apa yang mereka lihat terhadap perkembangan anaknya. Oleh karenanya orang tua penting untuk mengetahui tentang parenting.

1.2.  Rumusan Masalah
Masalah umum dalam makalah ini dapat dirumuskan yaitu bagaimanakah pentingnya parenting terhadap pola asuh anak?
Masalah khusus dalam makalah ini dapat dirumuskan sebagai berikut.
1)      Bagaimana pentingnya parenting terhadap penyesuaian perilaku anak dengan lingkungannya ?
2)      Bagaimana pentingnya parenting terhadap kompetensi sosial anak ?
3)      Bagaimana pentingnya parenting terhadap pembentukan kepribadian anak ?

2.         Pembahasan
2.1.  Pentingnya Parenting terhadap Penyesuaian Perilaku Anak dengan Lingkungannya
Segala perilaku orang tua dan pola asuh yang diterapkan di dalam keluarga berpengaruh dalam pembentukan kepribadian atau karakter seorang anak. Perilaku ini menyangkut kasih sayang, sentuhan, kelekatan emosi orang tua terutama ibu, serta penanaman nilai-nilai dapat mempengaruhi kepribadian anak. Kedua orang tua terlibat, karena keterlibatan ayah dalam pengasuhan di masa kecil sampai usia remaja juga menentukan pembentukan karakter anak.
Parenting erat kaitannya dengan kemampuan suatu keluarga/rumah tangga dan komunitas dalam hal memberikan perhatian, waktu dan dukungan untuk memenuhi kebutuhan fisik, mental, dan sosial anak-anak yang sedang dalam masa pertumbuhan serta bagi anggota keluarga lainnya. Parenting mencakup berbagai aktifitas yang bertujuan agar anak dapat berkembang secara optimal dan dapat bertahan hidup dengan baik. Prinsip pengasuhan tidak menekankan pada siapa (pelaku) namun lebih menekankan pada aktifitas dari perkembangan dan pendidikan anak. Oleh karena itu, parenting meliputi pengasuhan fisik, pengasuhan emosi, dan pengasuhan sosial (Hoghughi, 2004).
Pada kenyataanya, masih terdapat orang tua yang hanya memenuhi kebutuhan fisik saja. Seperti membelikan semua mainan yang diinginkan, makanan yang diinginkan, dan lain sebagainya. Akan tetapi, sebetulnya dalam hati si anak yang tanpa perhatian orang tua dan memberikan semua kebutuhan fisiknya berpikir “Mama dan papa tidak sayang sama aku, setiap hari aku selalu di titipkan di rumah nenek. Mama dan papa selalu sibuk bekerja”. Adakalanya anak membutuhkan perhatian penuh oleh dari orang tua.                                                        
Pentingnya parenting terhadap penyesuaian perilaku anak dengan lingkungannya kembali pada pendekatan perkembangan kognitif yang menyebutkan kunci untuk memahami tingkah laku anak. Terdapat 3 model perkembangan kognitif :
1)        Model Piaget
Intelegensi bukan suatu yang dimiliki anak, tetapi yang dilakukannya. Perkembangan kognitif (intelegensi) meliputi 4 tahap atau periode di bawah ini.
Tabel 2.1. Perkembangan Kognitif menurut Piaget
Periode
Usia
Deskripsi Perkembangan
1.    Sensorimotor
0-2 tahun
Pengetahuan anak diperoleh melalui interaksi fisik, baik dengan orang lain/objek (benda), skema-skemanya baru berbentuk refleks-refleks sederhana, seperti : menggenggam/menghisap
2.    Praoperasional
2-6 tahun
Anak mulai menggunakan simbol-simbol untuk merepresentasi dunia (lingkungan) secara kognitif. Simbol-simbol itu seperti kata-kata & bilangan yang dapat menggantikan objek, peristiwa & kegiatan (tingkah laku yang tampak)
.   Operasi konkret
6-11 tahun
Anak sudah dapat membentuk operasi-operasi mental atas pengetahuan yang mereka miliki. Mereka dapat menambah,mengurangi & mengubah. Operasi ini memungkinkannya untuk dapat memecahkan masalah secara logis.
4.    Operasi formal
11 tahun -dewasa
Periode ini merupakan operasi mental tingkat tinggi. Disini, anak (remaja) sudah dapat berinteraksi dengan peristiwa-peristiwa hipotesis/ abstrak, tidak hanya dengan objek-objek konkret. Remaja sudah dapat berpikir untuk memecahkan masalah melalui penggunaan alternatif yang ada.

2)        Model Pemrosesan Informasi
3)        Model Kognisi Sosial
Kebudayaan telah mengajari anak tentang apa yang dipikirkan dan cara berpikir. Lev Vygotsky meyakini bahwa perkembangan kognitif menghasilkan proses sosio instruksional yang karenanya anak belajar saling tukar pengalaman dalam memecahkan masalah dengan oranglain, seperti orang tua, guru, saudara, dan teman sebaya. Pemikiran Albert Bandura yang lebih mengajukan peranan faktor-faktor kognitif daripada analisis tingkah laku. Asumsi terpentingnya adalah bahwa belajar observasional terjadi ketika tingkah laku anak berubah sebagai hasil dari pandangannya terhadap tingkah laku seorang model (seperti orang tua, guru, saudara, teman, pahlawan, bintang film, dan sebagainya). Orang tua menjadi model pola perilaku yang tepat bagi anak untuk belajar menjadi anggota masyarakat yang baik. Orang tua juga menjadi stimulator bagi pengembangan kemampuan anak untuk mencapai prestasi baik di sekolah maupun di masyarakat.
Tabel 2.2.Pengaruh Parenting Style terhadap Perilaku Anak
Parenting styles
Sikap/perilaku ortu
Profil perilaku anak
1.    Authoritarian
1.    Sikap ‘acceptance’ rendah, namun kontrolnya tinggi
2.    Suka menghukum secara fisik
3.    Bersikap mengomando (mengharuskan / memerintah anak untuk melakukan sesuatu tanpa kompromi)
4.    Bersikap kaku (keras)
5.    Cenderung emosional & bersikap menolak
1.    Mudah tersinggung
2.    Penakut
3.    Pemurung, tidak bahagia
4.    Mudah terpengaruh
5.    Mudah stress
6.    Tidak memiliki arah masa depan yang jelas
7.    Tidak bersahabat
2.    Permissive
1.    Sikap ‘acceptance’-nya tinggi, namun kontrolnya rendah
2.    Memberi kebebasan kepada anak untuk menyatakan dorongan/ keinginannya
1.    Bersikap impulsif & agresif
2.    Suka memberontak
3.    Kurang memiliki rasa percaya diri
4.    Suka mendominasi
5.    Tidak jelas arah hidupnya
6.    Prestasinya rendah
3.    Authoritative
1.    Sikap ‘acceptance’ & kontrolnya tinggi
2.    Bersikap responsif terhadap kebutuhan anak
3.    Mendorong anak untuk menyatakan pendapat/pertanyaan
4.    Memberikan penjelasan tentang dampak perbuatan yang baik & buruk
1.    Bersikap bersahabat
2.    Memiliki rasa percaya diri
3.    Mampu mengendalikan diri
4.    Bersikap sopan
5.    Mau  bekerja sama
6.    Memiliki rasa ingin tahunya yang tinggi
7.    Mempunyai tujuan/arah hidup yang jelas
8.    Berorientasi terhadap prestasi

Berdasarkan fakta yang ada, orang tua mengabaikan pola asuh yang diberikan pada anaknya. Kebanyakan orang tua masih belum mengetahui bahwa pola asuh tersebut akan memberikan dampak positif maupun negatif terhadap penyesuaian perilaku anak terhadap lingkungannya. Ketika anak meminta ijin bermain selesai pulang sekolah si Ibu menjawab “Kamu tidak boleh bermain sama si Doni, karena dia nakal, nanti kamu akan ikut nakal”. Si anak akan merasa seakan-akan yang baik hanya dirinya jika si ibu berkata terus menerus seperti itu sehingga anak akan sulit untuk bersosialisasi dengan temannya yang lain. Terlebih ketika anak tersebut di lingkungan sekolah anak tersebut akan memusuhi semua temannya. Hal seperti ini akan berdampak buruk terhadap penyesuaian anak tersebut dengan lingkungannya.

2.2.Pentingnya Parenting terhadap Kompetensi Sosial pada Anak
Orang tua menginginkan anak-anaknya tumbuh menjadi individu-individu yang dewasa secara sosial, dan merasa frustasi dalam mencoba menemukan cara terbaik untuk mencapai pertumbuhan ini. Kasih sayang orang tua selama beberapa tahun pertama kehidupan merupakan ramuan kunci dalam perkembangan sosial anak, meningkatkan kemungkinan anak akan berkompeten secara sosial dan menyesuaikan diri dengan baik pada tahun-tahun prasekolah dan sesudahnya.
Pandangan Diana Baumrind (1971) yakin bahwa para orang tua tidak boleh menghukum atau mengucilkan, tetapi sebagai gantinya orang tua harus mengembangkan aturan-aturan bagi anak-anak dan mencurahkan kasih sayang kepada mereka. Tiga tipe yang ditekankan terkait dengan aspek-aspek yang berbeda dalam perilaku sosial anak: otoriter, otoritatif, dan laissez-faire(permisif) (Santrock, 2002:257).
Pengasuhan yang otoriter (authoritarian parenting) adalah suatu gaya yang membatasi dan menghukum yang menuntut anak untuk mengikuti perintah-perintah orang tua dan menghormati pekerjaan dan usaha (Santrock, 2002:257). Sebagai contoh seorang ibu mengatakan kepada anaknya “Jangan jajan sembarangan di sekolah!”. Maka anak akan akan merasa cemas dengan semua makanan yang dilihat ataupun diberikan. Anak yang orang tuanya otoriter seringkali cemas akan perbandingan sosial, gagal memprakarsai kegiatan, dan memiliki ketrampilan komunikasi yang rendah.
Pengasuhan yang otoritatif (authoritative parenting) adalah dorongan orang tua terhadap anak-anaknya agar mandiri tetapi masih menetapkan batas-batas dan pengendalian atas tindakan-tindakan mereka (Santrock, 2002:258). Sebagai contoh seorang ibu mengatakan “Saat kakak berebut mainan dengan adik, seharusnya kakak tidak boleh memukul adik. Kakak yang mengalah. Karena kakak lebih besar daripada adik”. Anak-anak yang mempunyai orang tua yang otoritatif berkompeten secara sosial, percaya diri, dan bertanggung jawab secara sosial.
Pengasuhan yang permissive-indifferent adalah suatu gaya di mana orang tua sangat tidak terlibat dalam kehidupan anak (Santrock, 2002:258). Sebagai contoh saat sudah adzan maghrib sang ibu bertanya kepada sang ayah yang baru datang dari kantor “Yah, apakah tadi kamu lihat anak kita di jalan ?” Padahal anak-anak memiliki keinginan yang kuat agar orang tuanya perduli. Anak-anak yang orang tuanya bergaya permissive-indifferent mengembangkan suatu perasaan bahwa aspek-aspek lain kehidupan orang tua lebih penting daripada anak-anaknya. Anak-anak yang orang tua yang bergaya permissive-indifferent inkompeten secara sosial. Anak-anak memperlihatkan kendali diri yang buruk dan tidak membangun kemandirian dengan baik.
Pengasuhan yang permissive-indulgent adalah suatu gaya pengasuhan di mana orang tua sangat terlibat dalam kehidupan anak-anaknya tetapi menetapkan sedikit batas atau kendali terhadap mereka (Santrock, 2002:258). Sebagai contoh orang tua membebaskan anaknya untuk melakukan apapun. Akibatnya, anak-anak tidak pernah belajar mengendalikan perilakunya sendiri dan selalu mengharapkan kemauannya untuk dituruti. Anak-anak yang orang tuanya bergaya permissive-indulgent jarang belajar menaruh hormat kepada orang lain dan mengalami kesulitan mengendalikan perilaku dirinya sendiri.
Berdasarkan fakta yang ada orang tua belum mengerti tipe pengasuhan yang mana yang diberikan kepada anak-anaknya. Orang tua menganggap yang dilakukan terhadap anaknya adalah yang terbaik bagi anaknya. ”Aku sudah memberikan sekolah terbaik untuk anakku, dan aku yakin itu adalah yang terbaik juga bagi anakku”.Padahal itu belum sama seperti yang dirasakan oleh anaknya. Banyak terdapat orang tua yang memenuhi kebutuhan anaknya seperti mainan, makanan, kesenangan, jalan-jalan, dan lain sebagainya, namun tidak memperdulikan bagaimana tipe pengasuhan yang dilakukan kepada anaknya yang sebenarnya akan berdampak terhadap kompetensi sosial anak.

2.3.  Pentingnya Parenting terhadap Pembentukan Kepribadian Anak
Keluarga adalah kelompok sosial pertama dan utama bagi kehidupan anak, anak lebih banyak menghabiskan waktunya dengan kelompok keluarga daripada dengan kelompok sosial lainnya. Anggota keluarga merupakan orang yang paling berarti dalam kehidupan anak selama proses pembentukan kepribadian anak, dan pengaruh keluarga jauh lebih luas dibandingkan pengaruh lainnya, bahkan juga di sekolah. Pengaruh keluarga pada perkembangan kepribadian anak berdampak sebagai berikut :
1.    Bila anak hidup dalam permusuhan, anak belajar berkelahi
2.    Bila anak hidup dalam ketakutan, anak belajar menjadi penakut
3.    Bila anak hidup dikasihani, anak belajar mengasihi dirinya
4.    Bila anak hidup dalam toleransi, anak belajar bersabar
5.    Bila anak hidup diejek, anak belajar menjadi pemalu
Orang tua merupakan kunci awal pendidikan dan pembentukan karakter anak karena orang tualah yang terdekat dengan anaknya ketika berada di rumah dan setiap orang tua menginginkan pendidikan yang terbaik dengan cara apapun yang dapat membuat anak mereka dapat tumbuh dan berkembang dengan kepribadian yang terbaik dapat bermanfaat dalam membentuk karakter keluarga, agama, dan bangsa. Sebagaimana telah dijelaskan pada sub bab sebelumnya tentang bentuk-bentuk tipe pola asuh orang tua, menerapkan pola asuh yang efektif merupakan hal yang perlu dilakukan oleh orang tua.
Ada sebuah pepatah yang dikemukakan oleh Thomas Lickona “Walaupun jumlah anak-anak hanya 25% dari total jumlah penduduk, tetapi menentukan 100% masa depan” (Megawangi, 2004:21). Oleh karena itu, pola asuh orang tua penting untuk pembentukan moral dan kepribadian melalui penanaman pendidikan karakter sedini mungkin kepada anak-anak yang menjadi kunci utama untuk membangun bangsa.
Berdasarkan fakta yang ada, orang tua penting untuk memperhatikan pengasuhan yang diberikan kepada anaknya sejak dini. Pengasuhan yang baik membuat masa depan yang baik untuk anak-anaknya. Di sekolah si anak mendapatkan pelajaran untuk membuang sampah di tempatnya, sementara itu saat berada di rumah si anak meminta tolong sang ayah untuk membukakan sebungkus permen. Tanpa disadari sang ayah membuang bungkus permen tersebut sembarangan. Si anak berceloteh “Ayah, kata bu guru tidak boleh buang sampah sembarangan”. Orang tua memang penting untuk berhati-hati terhadap apa yang dilakukan karena anak-anak mudah untuk mengimitasi perilaku orang tuanya.

3.        Simpulan
Berdasarkan uraian pembahasan di atas, dapat disimpulkan sebagai berikut.
1)      Peran pengasuhan orang tua terhadap penyesuaian perilaku anak dengan lingkungannya mengacu pada 3 model perkembangan kognitif yaitu Model Piaget, Model Pemrosesan Informasi, dan Model Kognisi Sosial. Selain itu Albert Bandura juga berasumsi bahwa belajar observasional terjadi ketika tingkah laku anak berubah sebagai hasil dari pandangannya terhadap tingkah laku seorang model. Bandura menyebutkan bahwa orang tua menjadi model perilaku yang tepat bagi anak untuk belajar menjadi anggota masyarakat yang baik dan juga orang tua menjadi stimulator bagi pengembangan kemampuan anak untuk mencapai prestasi baik di sekolah maupun di lingkungan masyarakat.
2)      Peran pengasuhan terhadap kompetensi sosial anak terdapat pada kasih sayang orang tua selama beberapa tahun pertama kehidupan. Anak akan berkompeten secara sosial dan menyesuaikan diri dengan baik pada tahun-tahun prasekolah dan sesudahnya. Tiga tipe yang ditekankan oleh Santrock terkait dengan aspek-aspek yang berbeda dalam perilaku sosial anak yaitu otoriter, otoritatif, dan laissez-faire (permisif). Namun tipe orang tua otoritatif adalah tipe yang dianjurkan karena tipe otoritatif orang tua mendorong anak-anaknya agar mandiri tetapi masih menetapkan batas-batas dan pengendalian atas tindakan-tindakan mereka.
3)      Peran pengasuhan terhadap pembentukan kepribadian anak dapat dilakukan melalui keluarga. Keluarga merupakan kelompok sosial pertama dan utama bagi kehidupan anak. Anak lebih banyak menghabiskan waktunya dengan kelompok keluarga daripada dengan kelompok sosial lainnya. Pengaruh keluarga jauh lebih luas dibandingkan pengaruh lainnya, bahkan juga di sekolah.




DAFTAR RUJUKAN
Brooks, Jane. 2011. The Process of Parenting. Terjemahan Rahmat Fajar. 2011. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Megawangi, Ratna. 2004. Pendidikan Karakter. Bogor: Indonesia Heriatage Foundation.
Santrock, J. W. 2002. Life-Span Development. Terjemahan Juda Damanik & Achmad Chusairi. 2002. Jakarta: Erlangga

























PENTINGNYA PARENTING TERHADAP POLA ASUH ANAK

Oleh :
Ratna Alvionitta Zuhri

ABSTRAK
Kata kunci       : anak, orang tua, parenting, pola asuh

   Parenting merupakan pengasuhan. Pengasuhan dilakukan dengan cara memberikan rangkaian kebutuhan dan kualitas yang kompleks. Pengasuhan yang peka dan responsif dapat mengurangi dampak negatif gen, dampak kesulitan ekonomi, dampak diskriminasi dan prasangka, dampak perceraian, dan dampak kematangan dini yang sering dialami oleh anak perempuan. Anak akan merasa disayang, dilindungi, dianggap berharga, dan diberi dukungan oleh orang tuanya apabila orang tua memberikan pola asuh yang sesuai.
Orang tua memiliki peran untuk membimbing dan mendampingi semua tahapan pertumbuhan anak, yang merawat, melindungi, dan mengarahkan setiap tahap perkembangan anak. Anak terlahir seperti kertas kosong yang kemudian tergantung orang tua dan lingkungannya mengisi coretan-coretan dalam kertas tersebut. Anak dapat mempelajari semua perilaku melalui penghargaan dan hukuman dari luar sehingga menjadi pembelajar aktif yang menginterpretasikan lingkungan di sekitar serta memilih tujuan dan model untuk ditiru.
Perilaku orang tua dan pola asuh yang diterapkan di dalam keluarga berpengaruh dalam pembentukan kepribadian atau karakter seorang anak. Perilaku tersebut menyangkut kasih sayang, sentuhan, kelekatan emosi orang tua, serta penanaman nilai-nilai dapat mempengaruhi kepribadian anak. Perilaku orang tua dapat mempengaruhi perilaku anak terhadap lingkungannya. Orang tua menjadi model bagi anak untuk ditiru. Dampak negatif ketika orang tua mengabaikan pola asuh yang diberikan kepada anak akan terlihat ketika anak berada di lingkungan sekolah maupun di lingkungan rumah.
Kasih sayang orang tua selama beberapa tahun pertama kehidupan merupakan kunci dalam perkembangan sosial anak, meningkatkan kemungkinan anak akan berkompeten secara sosial dan menyesuaikan diri dengan baik pada tahun-tahun prasekolah dan sesudahnya. Pola asuh yang ditekankan untuk orang tua terkait dengan aspek-aspek yang berbeda dalam perilaku sosial anak yaitu otoriter, otoritatif, dam permisif. Setiap pola asuh tersebut memiliki cara-cara pengasuhan dan dampak yang berbeda terhadap anak.
Keluarga merupakan kelompok sosial pertama dan utama bagi kehidupan anak karena anak lebih banyak menghabiskan waktunya dengan kelompok keluarga daripada kelompok sosial lainnya. Keluarga berpengaruh penting terhadap pembentukan kepribadian anak. Kepribadian anak akan baik jika keluarga dan lingkungannya mencerminkan perilaku yang baik. Pembentukan moral dan kepribadian melalui penanaman pendidikan karakter sejak dini menjadi kunci utama dalam membangun bangsa.

1 komentar:

  1. Maaf saya ingin bertanya, buku santrock, Life-Span Development tahun 2002 bisa ditemui dimana yah? Saya membeli tahun terbit 2011 dengan judul yg sama tetapi tidak menemukan mengenai pembahasan yg diatas
    Terimaksih sebelumnya

    BalasHapus